Jumlah Perokok Muda Kian Meningkat

TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan perokok tidak pernah kehilangan anggota baru karena selalu ada perokok pemula. Bahkan belakangan, tren itu terus meningkat.

Ini kesimpulan dari paparan tren peningkatan perokok di kalangan remaja. "Kecenderungan ini memprihatinkan," kata Ekowati Rahajeng, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, kepada media pada Jumat 25 Mei 2012 di Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Dalam paparan itu tergambar peningkatan konsumsi rokok pada kalangan muda. Jika pada 1995, perokok remaja (usia 15-19 tahun) adalah tujuh persen dari populasi, pada 2010 jumlahnya meroket menjadi 19 persen.

Begitu juga dengan para perokok di kalangan anak-anak (10-14 tahun). Pada 1995, jumlah perokok anak sekitar 71 ribu. Pada 2010, jumlahnya melompat menjadi sekitar 425 ribu. Dengan kata lain, jumlah perokok anak naik enam kali lipat dalam 15 tahun terakhir.

"Adanya peningkatan konsumsi rokok akan mengancam bonus demografi," kata Abdillah Ahsan, peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang juga memberikan paparan dalam acara itu.

Bonus demografi adalah keadaan yang terjadi, jumlah penduduk produktif lebih besar ketimbang mereka yang tidak produktif. Sederhananya, tiga orang bekerja hanya untuk menanggung satu orang. "Kesempatan ini hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu penduduk," kata Abdillah dalam kesempatan yang sama.

Bonus demografi ini akan terjadi di Indonesia pada 2020-2030. Saat berakhir, proporsi penduduk lanjut usia akan mulai meningkat. Itu artinya, beban ketergantungan penduduk tidak produktif terhadap penduduk produktif akan naik.

Sementara itu, beban ekonomi akibat peningkatan perokok menjadi ancaman terhadap bonus demografi. Masifnya konsumsi rokok juga terlihat dari besarnya proporsi rumah tangga di Indonesia yang memiliki pengeluaran untuk rokok.

Pada 2009, sebanyak 7 dari 10 rumah tangga membelanjakan uangnya untuk rokok. Yang menyedihkan, rumah tangga termiskin juga terperangkap dalam konsumsi rokok. Sebanyak 6 dari 10 rumah tangga termiskin memiliki pengeluaran untuk membeli rokok.

"Pengeluaran untuk rokok hanya lebih kecil dari makanan pokok dan pengeluaran ini mengalahkan 23 jenis pengeluaran lainnya ," kata Abdillah.

Dari segi medis, merokok menjadi faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular. "Hampir 60 persen kematian di Indonesia diakibatkan oleh penyakit tidak menular," ujar Ekowati.

Efek merokok, kata doktor bidang epidemiologi dari Universitas Indonesia ini, memang tidak menimbulkan kematian seketika. Penyakit akibat merokok sifatnya kronis dan pengaruhnya kumulatif yang akan mulai dirasakan pada usia dewasa.

Panen penyakit akibat merokok di antaranya stroke, penyakit jantung, kanker, dan paru-paru. Saat ini di Indonesia terdapat 300 ribu kematian per tahun yang diakibatkan oleh rokok.

Akumulasi faktor ekonomi dan medis akibat merokok tentu akan sangat merugikan di masa yang akan datang. Karena itu, Abdillah meminta pemerintah segera bertindak tegas untuk membatasi peningkatan konsumsi rokok ini.

Caranya, melarang iklan rokok, sponsorship, promosi, maupun corporate social responsibility rokok. Pemberlakuan kawasan tanpa rokok juga harus diperketat.

Hal lainnya adalah meningkatkan cukai hasil tembakau ke tingkat maksimal, yakni 57 persen dari harga jual eceran, merevisi Undang-Undang Cukai dengan menaikkan tingkat cukai maksimal menjadi 70 persen dari harga jual eceran sesuai dengan rekomendasi World Health Organization, dan menaikkan PPN rokok dari 8,4 persen menjadi 10 persen seperti barang-barang lainnya.

"Rekomendasi lainnya adalah segera tetapkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tembakau menjadi Peraturan Pemerintah dan meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control untuk menunjukkan komitmen pemerintah pada perlindungan kesehatan masyarakat," ujar Abdillah.
AMIRULLAH

Perokok Mentol Lebih Berisiko Terkena Stroke

TEMPO.CO - Tentu, tidak ada rokok yang baik bagi kesehatan Anda. Tetapi penelitian baru menunjukkan perokok mentol lebih berisiko menderita stroke daripada perokok non-mentol. Rokok mentol ini kebanyakan digemari perempuan.

Peneliti menyarankan, bila tetap ingin merokok, segeralah hindari rokok berperasa mentol. "Semua buruk. Tapi, dari perspektif demi mengurangi risiko, setidaknya rokok mentol harus dihindari," kata dr Nicholas Vozoris dari St Michael Hospital di Toronto.

Mentol ditambahkan ke rokok untuk menambahkan rasa permen yang menyegarkan. Vozoris mengambil informasi dari departemen kesehatan dan survei gaya hidup 5.028 perokok dewasa. Survei ini dilakukan pada tahun 2001 sampai 2008. Secara keseluruhan, sekitar 26 persen dari peserta mengatakan mereka biasanya merokok mentol dan sisanya merokok non-mentol.

Sebanyak 3,4 persen perokok mentol mengatakan mereka mengalami stroke, yang terjadi ketika gumpalan menyumbat aliran darah ke otak. Sementara risiko perokok non-mentol hanya 2,7 persen.

Setelah memperhitungkan usia perokok, kelamin, dan jumlah rokok yang diisap, Vozoris menyimpulkan perokok mentol memiliki risiko stroke dua kali lipat dibandingkan mereka yang memilih rokok non-mentol.

Perbedaan paling mencolok adalah pada perempuan dan orang-orang selain ras non-Afrika-Amerika. Survei itu menemukan perempuan memiliki risiko stroke tiga kali lipat.

Kepada Reuters Health, Vozoris mengatakan bahwa perempuan dan orang dari ras non-Afrika Amerika yang merokok rasa mentol lebih berisiko stroke. Sayang, ia tidak yakin apa alasannya. Studi ini tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Tetapi, yang menarik, rokok mentol tidak berhubungan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, gagal jantung kongestif, penyakit paru-paru kronis, atau serangan jantung. "Sungguh menarik bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan antara rokok mentol dan stroke, tetapi tidak mempengaruhi tekanan darah tinggi," kata dr Gordon Tomaselli, Presiden American Heart Association dan kepala kardiologi di Johns Hopkins University School of Medicine di Baltimore.

Menurut Vozoris, temuan yang dipublikasikan dalam Archives of Internal Medicine itu menemukan kandungan mentol dalam rokok memiliki efek buruk pada pembuluh yang memasok darah ke otak pada khususnya. Ada yang bilang mentol membuat lebih mudah untuk mulai merokok dan sulit untuk berhenti karena menutupi rasa kerasnya tembakau. Tapi produsen tidak setuju.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, merokok jenis apa pun tetap meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung dua sampai empat kali lipat dibandingkan non-perokok. Tomaselli, yang tidak terlibat dalam penelitian baru itu, berkata, "Efek dari asap rokok sangat luas dan mempengaruhi sejumlah sistem organ."
NININ DAMAYANTI