Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah penelitian terbaru di Jerman mengungkapkan para pria yang stres justru lebih mempercayai orang lain dan menjadi orang yang berperilaku lebih sopan terhadap orang lain. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan, saat di bawah tekanan stres, para pria akan melakukan tindakan 'melawan atau lari' dan menjadi lebih agresif, sementara para wanita yang stres dikatakan cenderung menjadi orang yang lebih suka berteman dengan orang lain.

Hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science edisi 16 Mei menemukan bahwa pria stres cenderung menjadi lembut dan bersahabat. "Tampaknya, pria juga menunjukkan perilaku pendekatan sosial sebagai konsekuensi langsung dari stres," kata peneliti Bernadette von Dawans dari University of Freiburg di Jerman, seperti dikutip LiveScience.

Para peneliti merekrut 67 pria dari University of Zurich untuk mengetes respons mereka terhadap stres. Separuh dari para pria itu ditempatkan dalam kondisi stres dengan berbicara di depan umum dan harus menyelesaikan tes mental matematika yang sulit. Sebagian yang lain melakukan aktivitas dengan cara yang santai, menyelesaikan tugas berhitung yang mudah, dan menyelesaikan tugas membaca bersama pelepas stres.

Setelah menjadi cukup stres atau tidak stres, para partisipan bermain serangkaian trust and sharing games dengan uang sebenarnya (bukan uang mainan) yang dipertaruhkan dengan kelompok partisipan lain. Games ini melibatkan pilihan untuk membuat keputusan mengenai berapa besar partisipan mempercayai rekannya, apakah mendapatkan kepercayaan dari rekan atau malah mengkhianati mereka, serta apakah akan berbagi uang atau menyimpan sendiri uang tersebut.

Para sukarelawan itu juga diminta menyelesaikan permainan judi dadu sederhana untuk mengukur keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang non-sosial. Selama masa percobaan ini, para ahli memonitor juga laju jantung relawan dan kadar kortisol--hormon stres--di ludah mereka.

Hasil riset tersebut menunjukkan sesuatu yang berbeda dari stereotip selama ini yang mengatakan saat stres pria menjadi lebih agresif, justru sebaliknya, para pria menjadi lebih sopan dan lembut. Semakin tinggi laju jantung dan tingkat kortisol mereka, semakin para pria itu berperilaku baik hati, mempercayai orang lain, dan semakin bisa dipercaya. Dengan kata lain, stres membuat pria menjadi lebih ramah.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan untuk bersikap lebih ramah dan bersahabat saat mengalami stres bukan hanya terjadi pada wanita, tetapi juga pria.
ARBA'IYAH SATRIANI

Wanita Lebih Jujur Ketimbang Pria

TEMPO.CO, Jakarta-Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa wanita ternyata lebih bermoral ketimbang pria. Wanita yang berusia di atas 30 tahun adalah yang paling jujur.

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Roger Steare ini mendasarkan kesimpulannya pada sebuah "Moral DNA test" yang melibatkan 60 ribu partisipan dari 200 negara. Mereka diminta untuk menjawab sebuah tes guna menguji tingkat moral mereka.

Tes ini diciptakan oleh Profesor Steare empat tahun lalu dan melibatkan partisipan yang menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, berdasarkan jawaban atas apa yang orang lain pikirkan tentang mereka.

Sebuah contoh pertanyaan yang diajukan adalah : "Orang yang mengenal saya dengan baik mengenai kehidupan pribadi saya akan menjelaskan saya sebagai ...: penurut, beretika, peduli, sopan, simpatik " dengan pilihan respon sebagai berikut : "sama sekali tidak"; "sedikit"; "kadang-kadang" dan "sangat".

Tujuan dari kuisioner ini adalah untuk mengukur moral seseorang berdasarkan kejujuran dan kompetensinya. Bagian akhir dari tes tersebut mengkategorikan partisipan dalam satu dari enam tipe kepribadian yaitu, filsuf, bidadari, guru, pelaksana, hakim dan penjaga.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita lebih cenderung membuat keputusan berdasarkan "bagaimana dampak sesuatu terhadap orang lain di pekerjaan maupun kehidupan pribadi" ketimbang pria.

Mengomentari hasil tersebut, Profesor Steare seperti diungkapkan kepada Huffington Post edisi 16 April 2012 mengatakan, "Kami menilai karakteristik seperti jender, usia, kebangsaan, pendidikan, pekerjaan, agama dan politik. Anda akan melihat bagaimana skor terhadap rata-rata manusia dalam tiga skala yang diukur, bagaimana kita lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang benar, baik dalam pekerjaan maupun pada kehidupan pribadi."

"Anda akan melihat bagaimana Anda membandingkan dengan orang lain dalam 10 nilai moral termasuk cinta, kejujuran, dan kebijaksanaan yang pada kesimpulannya akan menunjukkan siapa Anda, apakah seorang filsuf, hakim, bidadari, guru, pelaksana atau penjaga," sambung Profesor Steare.

Mengenai pengaruh usia dalam penelitian tersebut, kepada Daily Mail, Profesor Steare mengatakan, "Yang ditunjukkan dalam riset ini adalah ketika berkenaan dengan pekerjaan, pria harus bersikap dewasa, menempatkan ego mereka di satu sisi dan menunjukkan kerendahan hati dan rasa iba- kualitas yang terlalu sering digunakan dalam kehidupan pribadi mereka tetapi ditempatkan di sisi lain ketika mereka harus bekerja."
HUFFINGTON POST |ARBA'IYAH SATRIANI

Benci Pekerjaan Bikin Rentan Kesehatan

TEMPO.CO, Jakarta - Selama hidupnya, 27 tahun, baru kali ini Tari merasa sakit kram di bagian perut. Kejadiannya kira-kira sebulan yang lalu di kantornya. Rasa sakit menyerang di ulu hati sampai ia sulit bergerak. Setelah mendapat izin dari bos, ia segera ke rumah sakit di dekat kantornya di Pluit, Jakarta Utara. Hasil pemeriksaan menunjukkan asam lambungnya naik, sehingga memicu sakit mag.

"Saya baru tahu ada sakit mag," kata perempuan lajang itu. Dokter mengatakan ada kemungkinan ia mengalami stres tingkat tinggi, sehingga asam lambungnya meningkat.

Perkataan itu membuatnya tersadar. Sudah setahun belakangan ia menghadapi masalah di tempat kerja. Bosnya selalu bersikap tidak menyenangkan. Ditambah lagi kondisi finansial perusahaan yang tidak menentu. "Mau masuk kantor saja, perut sudah mules duluan," ujar Tari.

Ia jadi membenci pekerjaannya sebagai asisten manajer sumber daya manusia. Padahal, ketika dua tahun lalu bekerja di tempat itu, ia masih semangat bekerja dan bersosialisasi dengan teman-teman di kantor. Tekanan dari bos, menurut Tari, yang membuatnya tidak kerasan. Beberapa kali hasil kerjanya tidak dihargai plus mendapat caci-maki di depan kolega yang lain.

Konflik batin mulai muncul ketika perusahaan tidak memberikan gajinya tepat waktu dalam dua bulan terakhir. Ia menjadi tidak kerasan dan membenci pekerjaannya. Keinginan untuk keluar dari perusahaan tambang itu semakin menguat. "Tapi saya belum menemukan pekerjaan yang baru," katanya. Alasan ini yang membuatnya tetap bertahan. Ia mengaku kondisi psikisnya menjadi lemah. Pusing dan sakit perut sudah biasa dirasakan. Masalah lainnya, jerawat banyak tumbuh di muka. "Padahal dulu saya enggak jerawatan," ujar Tari.

Kondisi ini juga dialami Lina, 27 tahun. Masalah manajerial di perusahaannya membuat dia stres. Migrain hingga insomnia ia rasakan sehari-hari. "Tidur selalu pukul 02.00," katanya. Pernah juga ia mengalami sakit perut hingga diduga ada kista di peranakannya. Untung saja vonis itu meleset. Tapi ia tetap merasa mulas beberapa kali ketika harus ke kantor.

Perasaan ingin keluar sudah menggebu-gebu hingga ia merasa membenci pekerjaannya. Beberapa kali ia bertanya-tanya mengapa tidak langsung mengundurkan diri saja. Namun, seperti Tari, ia tidak mau kehilangan penghasilan. Selain itu, Lina merasa masih memiliki banyak tanggung jawab terhadap perusahaan itu. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan membuat bisnis berjualan baju secara online dan kursus bahasa Inggris. "Daripada pusing mikirin kantor terus," katanya.

Sikap karyawan yang membenci pekerjaannya sangat merugikan perusahaan. Sebuah studi di John Molson School of Business Concordia University, Kanada, membuktikan sikap itu juga rentan terhadap masalah kesehatan. Tubuh karyawan menjadi mudah lelah, stres, dan tidak bersemangat. Akibatnya, kinerja pun merosot. "Ada kemungkinan hal ini karena ketiadaan ikatan emosional dengan organisasi dan pekerjaan," ujar asisten profesor Alexandra Panaccio.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Human Relations ini menemukan para pekerja yang bertahan sekadar memenuhi kewajiban cenderung mengalami masalah kesehatan fisik dan mental. Perasaan ini juga biasa terjadi pada karyawan yang bekerja hanya karena tidak ada pilihan lain. Penelitian ini melibatkan 260 karyawan dari berbagai industri, antara lain teknologi industri, jasa sumber daya manusia, pemasaran, pelayanan kesehatan, dan arsitektur.

Karyawan yang merasa tidak punya pilihan lain kecuali bertahan cenderung mengalami kelelahan emosional. "Pada akhirnya, mereka meninggalkan perusahaan," kata Panaccio.

Perusahaan bisa mengatasi masalah itu dengan cara aktif bekerja sama dan berkomunikasi dengan karyawan. Pengembangan kompetensi dapat meningkatkan mobilitas kerja, sehingga memicu tanggung jawab dan keinginan untuk bertahan di perusahaan.
SORTA TOBING | ARBAIYAH SATRIANI | LIVE SCIENCE