Risoles Dingin Rasa Durian juga Nikmat Lho

Liputan6.com, Bandung: Beragam makanan tersedia di Bandung, Jawa Barat. Tak terkecuali risoles, pastri berisi daging cincang dan tumis sayuran yang dibungkus dadar. Tapi menu yang dapat Anda jumpai di Rumah Lezat Simplisio, Jalan Karapitan, Bandung ini sedikit berbeda. Risoles ini dingin dan memiliki rasa durian. Rasanya tak kalah dengan risoles biasa.

Sesuai namanya, risoles ini tak digoreng atau dioven melainkan didinginkan di lemari pendingin. Isinya pun bukan daging dan sayuran, tapi saus durian serta makanan manis lain seperti cokelat.

Cara pembuatan risoles dingin terbilang cukup mudah. Pertama-tama siapkan sejumlah bahan dasar. Di antaranya tepung terigu, gula pasir, susu, mentega pasta buah-buahan, cream vanila, keju, bubuk biskuit, kacang almond serta saus durian atau saus buah-buahan lain sesuai selera.

Langkah selanjutnya bahan dasar untuk membuat kulit risoles seperti tepung terigu, susu, gula pasir dikocok hingga merata. Kemudian disaring untuk memisahkan bagian yang kasar. Selanjutnya masukan pasta dan kemudian dikocok hingga warna adonan berubah sesuai warna pasta.

Setelah adonan siap, panaskan wajan anti lengket di atas perapian yang akan digunakan untuk mencetak kulit risoles. Setelah wajan anti lengket cukup panas, masukan wajan dalam adonan sehingga adonan menempel pada bagian bawah wajan. Untuk selanjutnya dipanaskan di atas perapian selama kurang lebih dua menit.

Selanjutnya setelah kulit risoles tersedia, masukan saus durian serta makanan manis lain seperti bubuk biskuit, keju, kacang almond maupun cokelat. Setelah itu digulung dan masukan dalam plastik untuk selanjutnya didinginkan di dalam lemari pendingin selama kurang lebih dua jam. Dan risoles dingin rasa durian-pun siap untuk dinikmati.

Rasanya yang manis membuat sejumlah konsumen ketagihan. Kenikmatan rasa risoles dingin rasa durian diakui Rudy, konsumen.

Menurut pemilik Rumah Lezat Simplisio Marlisa Anggina, ide membuat risoles dingin rasa durian ini adalah untuk memberi kesempatan pada pecinta risoles tapi tak suka makanan yang digoreng. Dan terutama bagi pencinta buah durian untuk sekaligus menikmati jenis makanan itu. Risoles dingin rasa durian ini dihargai Rp 5 ribu.(AIS)

Berburu yang Ajib di Kota Bandung

BANDUNG tak cuma dikenal sebagai Paris van Java, tapi juga diburu warga luar kota karena sajian kulinernya yang dahsyat. Itu pula yang mendasari lahirnya Komunitas Kuliner Bandung (KKB).

Komunitas ini berawal dari beberapa mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang sama pada bidang kuliner. Mereka adalah Demi Yogaswara, Dimensi Idah, Billy Hamzah Fadli, Fachri, dan Yesiola. Melihat potensi kuliner Kota Bandung yang besar, ketertarikan mereka berkembang menjadi keinginan menggali potensi dan informasi yang berhubungan dengan kuliner Kota Bandung. Tujuannya, agar Bandung bisa jadi tempat wisata budaya.

Lewat jejaring sosial, para anggota komunitas yang terbentuk pada April 2008 ini saling bertukar informasi. Kegiatan pun mulai digelar, seperti menyelenggarakan acara menyusuri tempat- tempat penyedia makanan di Kota Bandung, mengadakan Junior Pizza Maker atau membuat piza bagi pemula, kelas masak, sampai kegiatan tahunan Bandung Heritage Culinary (BHC). Tak ketinggalan, berburu tempat-tempat kuliner yang baru di Bandung.

"Kalau sedang berburu makanan, kita cari yang ajib (enak, asyik), baik menu, tempat, maupun keunikannya," kata Billi Hamzah.

Tak hanya berburu tempat makan baru, KKB juga kerap mencari tempat makan atau makanan yang jadul alias sudah lama ada, tapi belum diketahui masyarakat umum. Yang dilakukan saat di lokasi juga tidak cuma makan-makan, tapi menggali informasi di balik makanan tersebut, langsung dari pelaku bisnisnya. Juga belajar tentang latar belakang dan kisah di balik kesuksesan si pengusaha makanan tersebut.

"Ini tak kalah seru dari acara makanmakannya. Dari informasi itu, kita bisa dapat inspirasi tentang kesuksesan. Kita bisa belajar dari mereka," kata Billi.

Meski namanya Komunitas Kuliner Bandung, tapi menurut Billi, anggotanya tak hanya mereka yang tinggal di Bandung. Banyak juga anggota yang datang dari Jakarta dan kota-kota lainnya.

"Sekarang jumlahnya sekitar 500 orang," tandasnya.

Saat ini media informasi para anggota bergantung pada jejaring sosial, yaitu Facebook dan Twitter. Dari jejaring sosial ini, segala info yang dibutuhkan tentang kuliner Kota Bandung bisa didapatkan. (ftr)