Obat Nyamuk Bisa Dipakai Berlindung dari Serangan Tomcat

foto
Seorang anak menunjukkan serangga Tomcat (Paederus Riparius) yang menyerang sejumlah pemukiman dikawasan Kenjeran, Surabaya, Selasa (20/3). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menyarankan masyarakat untuk melakukan perlindungan terhadap serangan serangga "Tomcat" dengan menggunakan obat nyamuk semprot yang dijual bebas di pasaran.

"Sebagai upaya pencegahan, kami juga menyarankan kepada masyarakat agar melakukan perlindungan pribadi menggunakan insektisida formulasi aerosol (obat nyamuk semprot) yang dijual bebas di pasaran, asalkan penyemprotannya dipastikan terkena langsung pada hewannya," ujar Tjandra di Jakarta, Kamis 22 Maret 2012.

Ia mengatakan pada populasi yang sedikit telah dibuktikan obat nyamuk dan serangga semprot sangat efektif mampu membunuh "Paederus" dan serangga tersebut mati sekitar 30-60 menit setelah terkena insektisida.
Meskipun demikian, Tjandra menekankan bahwa masyarakat tetap harus mengutamakan cara khusus jika berhadapan dengan serangga yang bisa menyebabkan kulit melepuh itu.

Langkah-langkah itu adalah pertama agar masyarakat tidak memencet serangga agar racun tidak mengenai kulit. "Masukkan ke plastik dengan hati-hati, terus buang ke tempat yang aman," kata Tjandra mencontohkan.

Tim dari Direktorat Jenderal P2PL Kemenkes sejak dua hari yang lalu bersama-sama dengan Dinas Kesehatan setempat telah melakukan kegiatan investigasi untuk penanggulangan lanjutan untuk laporan kasus gigitan serangga "tomcat" di Jawa Timur yang di antaranya terdiri atas ahli surveilans epidemiologi dan entomologi.

"Semua kasus tidak ada yang dirawat inap, hanya menjalani rawat jalan dan kondisinya telah membaik dalam waktu 3-4 hari paska terapi," ujar Tjandra tentang korban.
WDA | ANT

Kenali Gejala Klinis dari Serangan Tomcat

TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profesor Dokter Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan tentang gejala klinis serangan tomcat. Antara lain, kulit yang terkena biasanya di daerah kulit yang terbuka dalam waktu singkat yang akan terasa panas. Kemudian setelah 24 sampai 48 jam akan muncul gelembung pada kulit dan sekitarnya berwarna merah menyerupai lesi akibat terkena air panas atau luka bakar.

Pada kasus yang jarang terjadi tidak menimbulkan gejala kulit yang berarti. Perlu dipastikan bila tidak ada riwayat terkena bahan kimia atau luka bakar. Kemudian lesi pada mata menyebabkan conjunctivitis atau biasa disebut Naerobi Eye.

Untuk pengobatan, Tjandra menyarankan apabila menemukan serangga ini sebaiknya jangan dipencet agar racunnya tidak mengenai kulit. Kemudian masukkan ke plastik dengan hati-hati lalu buang ke tempat yang aman. Segera beri air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.

Tjandra juga mengatakan demi memastikan serangga ini tidak ada lagi, untuk mencegah bertambahnya lesi di kulit, kompres kulit dengan cairan antiseptik dingin. Apabila sudah timbul lesi seperti luka bakar, untuk pengobatan lanjutan sebaiknya periksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
HADRIANI P

Pakar Serangga: Cuci Tangan Kalau Kena Tomcat

foto
Seorang anak menunjukkan serangga Tomcat (Paederus Riparius) yang menyerang sejumlah pemukiman dikawasan Kenjeran, Surabaya, Selasa (20/3). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO , Bogor - Pakar serangga dari Institut Pertanian Bogor Aunu Rauf mengatakan kalau Tomcat menempel di tubuh manusia, mengusirnya cukup ditiup saja. Ia menyarankan tidak ada kontak fisik atau menggosok Tomcat dengan tangan. Sebab, cairan racun serangga asli Indonesia ini justru keluar kala Tomcat merasa terancam.

"Kalau terlanjur terkena cairannya, segera basuh dengan air bersih dan sabun. Efek racun Tomcat bisa sembuh sendiri dalam waktu satu minggu," kata Aunu di Bogor Selasa 20 Maret 2012.

Racun serangga Tomcat memang lebih dahsyat 15 kali lipat dibandingkan bisa ular kobra. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, karena serangga ini mengeluarkan cairan "payderin" hanya jika merasa terganggu.

"Memang berdasarkan literatur racunnya lebih kuat dibanding racun kobra. Tapi masyarakat jangan khawatir sama Tomcat," kata Aunu.

Menurut Aunu, habitat asli Tomcat berada di daerah lembab dan di bawah permukaan tanah, terutama sawah. Sebenarnya Tomcat adalah sahabat para petani. "Tomcat adalah predator hama wereng cokelat. Keberadaannya justru membantu petani dalam mengusir hama pengganggu tanaman. Asal jangan diganggu, Tomcat tidak berbahaya," kata Aunu.

Lalu apa alasan Tomcat bisa hijrah dari lahan pertanian ke sebuah apartemen Surabaya? Aunu menduga habitat serangga ini berada di lahan apartemen. Tomcat menyukai cahaya.

"Kemungkinan Tomcat terbang ke apartemen karena banyak cahaya lampu. Tapi saya belum ke lapangan, jadi belum tahu penyebab pastinya," kata Aunu.
ARIHTA U SURBAKTI