Jutaan Cita Rasa Kopi Ada di Nusantara

Johan Sompotan - Okezone
detail berita
(Foto: Getty Images)
SELAIN memiliki kekayaan ragam makanan, wilayah, serta budaya, Indonesia juga kaya cita rasa kopi. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai jutaan cita rasa kopi.

"Kelebihan kopi di Indonesia adalah punya cita rasa yang beragam, hampir jutaan dan itu tidak dimiliki oleh negara lain," jelas Ina A. Murwani, Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, kepada okezone saat ditemui di Liberica Coffee, Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Lantas, mengapa cita rasa kopi Nusantara bisa begitu banyak? "Sebagai contoh, Kolombia ada Kolombia Selatan, Kolombia Utara, tapi tetap saja nama kopinya adalah Kolombia saja. sementara di Indonesia, dari Timur sampai Barat, namanya beda-beda; kopi Aceh, Bali, Papua, dan sebagainya karena prosesnya berbeda-beda. Indonesia memang kaya akan kopi," tambahnya.

Bahkan kini, ujarnya, kopi yang berkembang di Indonesia memiliki banyak rasa, mulai cokelat, madu, rumput-rumputan, bunga, herbal, dan lainnya. Menurutnya, faktor iklim serta geografis Indonesia sangat menguntungkan bagi pertumbuhan kopi, terlebih Indonesia memiliki banyak pegunungan.

"Indonesia memiliki pegunungan aktif dan terdapat faktor dari tanahnya sehingga cita rasa kopi pun beragam," paparnya.

Dengan memiliki banyak cita rasa, kopi Indonesia pun dilirik banyak negara luar. "Di Flores ada namanya kopi madu, diproses, sehingga lengketnya seperti madu. Indonesia kaya akan kopi, belum lagi flavor-nya lebih bagus, bersih, smooth, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki robusta yang bersih, kalau yang rendah tidak akan terasa halus," tutupnya.
(ftr)

Cikal Bakal Kopi Indonesia dari Pulau Jawa

detail berita
(Foto: Getty Images)
KOPI di Indonesia banyak ragamnya, mulai dari wilayah Barat hingga Timur. Namun di balik kenikmatannya, kopi ternyata cikal bakal lahirnya kopi di Indonesia.

"Pulau Jawa itu cikal bakal kopi Indonesia karena pada awal mulanya kopi itu datang di Pulau Jawa," ucap Ina A. Murwani, Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, kepada okezone saat ditemui di Liberica Coffee, Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dijelaskannya, awal mula pertumbuhan kopi adalah daerah Jawa Barat. Campur tangan pemerintah Belanda menjadikan kopi kini memiliki pula pilihan tidak begitu kental.

"Asal usulnya di Jawa Barat, tapi di sana lebih dikenal dengan teh, bukan kopi. Dan di sana, kopi sudah lama karena ada faktor politik pemerintahan Belanda dan campur tangan mereka," paparnya.

Ina menegaskan, kopi sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia, tapi dibawa dari negara-negara asing yang datang ke Indonesia dengan menggunakan sistem barter. Kopi awalnya berasal dari Arab, tepatnya Yaman dan Ethiopia.

Ina menambahkan, dari daerah Jawa Barat lah, perlahan tanaman kopi mulai dikenal leh masyarakat secara luas. Menanam kopi pun menjadi sumber penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup.

"Dari Jawa Barat mulai menjalar ke wilayah Indonesia. Oleh karena itu, Jawa Barat dikenal sebagai lahirnya kopi hingga disebut Java Kopi. Dari sana mulai memasuki daerah Jawa Timur, dari situlah kopi mulai dikembangkan sehingga Jawa Timur dikenal sebagai sumber kopi, dan kini Jawa Tengah, tepatnya Temanggung, sudah mulai mengembangkan kopi," paparnya.

Setelah Jawa Tengah, lanjut Ina, kopi kemudian masuk ke wilayah lainnya di Indonesia, seperti Bali, Papua, Aceh, Medan, Flores, dan hampir di seluruh wilayah Indonesia. (ftr)

Barista Indonesia Jauh di Bawah Standar Internasional

detail berita
(Foto:examiner)
MESKIPUN Indonesia mendapatkan predikat salah satu penghasil kopi terbaik dunia, kenyataannya tidak berbanding dengan peraciknya. Peracik kopi alias barista Indonesia dikatakan masih jauh di bawah standar internasional.

"Kalau ditanya soal barista di Indonesia, racikannya masih jauh di bawah standar, hanya bisa menggapai nilai 75, padahal produsen dan konsumen paling banyak. Sungguh menyedihkan memang," kata Ina A. Murwani, Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, kepada okezone saat ditemui di Liberica Coffee, Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Menurutnya, kekurangan barista Indonesia adalah masih kurang pengetahuan soal meracik selain faktor kepercayaan diri. "Faktor waktu serta teknik membuat, percaya diri juga kurang, pengetahuan kopi sangat rendah," imbuhnya.

Ina menambahkan, barista Indonesia juga sulit menjelaskan proses pembuatan kopi yang diinginkan konsumennya. Seorang barista, disebutnya, selain pintar meracik juga harus bisa mendeskripsikan kopi yang dibuatnya kepada konsumen.

Keengganan mencicipi kopi yang diracik turut menjadikan barista Indonesia jauh ketimbang negara Asia dan Eropa lainnya. "Tidak ada dorongan. Cerita di balik kopi banyak, proses penanaman juga berpengaruh, nah konsumen harus tahu detail kopi yang dikonsumsi. Kelemahan barista Indonesia tidak bisa menjelaskan. Kalau Anda lihat, barista Eropa, mereka sambil menjelaskan kopi yang diraciknya," tutupnya. (ftr)