Shabu-Shabu

detail berita

JIKA ingin merasakan cita rasa daging alami, Anda bisa membuat shabu-shabu. Kuliner asal Jepang ini mengutamakan cita rasa daging yang alami sehingga kesegarannya sangat terasa.

Bahan:
350 gram daging sapi sukiyaki
1 1/4 liter kaldu daging sapi
2 sdm miso
1 sdm kecap asin
10 buah jamur shitake segar
1 bungkus jamur enoki
1 buah tahu stera kitak, potong jadi 8 bagian
1 bungkus udon, jerang dengan air panas, tiriskan
75 gram sawi putih, potong-potong
3 batang daun bawang, potong serong ukuran 2 cm
100 gram sawi bok choy, potong-potong

Saus:

150 ml kecap asin
100 ml air jeruk lemon
5 cm lobak, parut halus
3 siung bawang putih, haluskan
3 cm jahe, parut halus
1 sdm biji wijen, sangrai, haluskan

Pelengkap:
1 batang daun bawang iris tipis
5 buah cabai rawit merah, iris tipis

Cara membuat:
1. Didihkan air kaldu bersama miso dan kecap asin, lalu aduk merata.
2. Siapkan daging sukiyaki di atas piring saji, bersihkan sayuran dan jamur, atur di atas piring saji.
3. Penyajian: rebus daging dan sayuran sesaat akan menyantapnya. Celupkan dalam saus, sajikan dengan pelengkap.

Resep disarikan dari buku Memasak di Akhir Pekan karya Halal Australian Beef Natural & Safe
(ftr)

Kuliner Jepang Antipedas

detail berita
Kuliner Jepang. (Foto: gettyimages.com)
CITA rasa pedas tidak bisa diterima oleh kuliner seluruh negara, termasuk Jepang. Kebanyakan kuliner Negeri Sakura ini tidak memiliki rasa pedas.

"Kalau di Indonesia, ada unsur pedas pada makanannya karena terdapat cabai. Sementara, di Jepang tidak ada unsur pedasnya, bisa dibilang Jepang itu antipedas," kata Syamsul Bachri, Assistant Manager Miyama Japanese Restaurant, di Hotel Borobudur, Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, Jepang memang memiliki wasabi, tetapi bukan bersifat menghasilkan rasa pedas, hanya sebagai penetralisir rasa. "Wasabi tidak pedas karena kalau pedas ada di ujung lidah, tapi wasabi hanya di hidung. Wasabi hanya digunakan untuk makanan mentah gunanya untuk meningkatkan kelembapan," lanjutnya.

Wasabi pada kuliner Jepang juga berfungsi melindungi bakteri pada olahan bahan makanan mentah. "Kalau Anda makan sushi, itu kan mentah dan tidak ada proses cooking, yang pasti ada bakteri di dalam ikannya. Jepang mempertimbangkan itu, makanya dipakailah wasabi. Bakteri tidak mati dengan wasabi, tapi prosesnya ditutup, tidak aktif, agar bakteri tidak membelah diri," bebernya.

Syamsul mengatakan bila faktor alam, cuaca, serta kondisi tanah ikut mempengaruhi pertumbuhan cabai di Jepang. "Iklim di Indonesia sangat memungkinkan cabai bisa tumbuh sementara kalau di Jepang kan tidak, suhu dinginnya bisa mematikan hingga akar cabai sekaligus," tututpnya. (ftr)

Tiga Rasa Dominasi Makanan Jepang

detail berita
Ilustrasi. Foto: Okezone
KULINER Jepang terkenal dengan kelezatan cita rasa olahan bahan makanan mentah. Bila diperhatikan, kuliner Jepang sangat didominasi olahan apa adanya saja. Lalu, apa yang menjadikan kuliner Jepang bisa mendunia?

"Kalau Anda cari makanan Jepang, tidak ada yang memiliki unsur cabai, tetapi tiga rasa yang dominan, yaitu manis, asam, dan asin," kata Syamsul Bachri, Assistant Manager Miyama Japanese Restaurant, di Hotel Borobudur, Jakarta, baru-baru ini.

Syamsul mengutarakan secara detail soal kuliner Jepang yang didominasi tiga rasa. "Kenapa Jepang hanya menginginkan tiga rasa? Rasa manis menjadi permulaan rasa sebelum makan, rasa asin karena ada seafood, dengan pertimbangan bisa menahan daripada bertumbuhnya bakteri. Sementara, rasa asam adalah untuk kesehatan; mengurangi lemak dan kolesterol," tambahnya.

Dijelaskan Syamsul, Filosifi makanan Jepang terkait tiga rasa tersebut adalah "sa shi shu shei". Kata "sa" berasal dari kata "sato" yang artinya gula putih (merepresentasikan rasa manis), "shi" adalah shio (mewakilil rasa asin), "shu" dari kata shunomono yang artinya cuka (mewakili rasa asam), sedangkan "shei" berasal dari kata "sheiyu" yang artinya kecap asin.

Selain ketiga rasa yang mendominasi kuliner Jepang, diakuinya masyarakat Jepang lebih memilih rasa yang natural. "Orang Jepang suka aroma alami, misalnya Anda mengolah ikan, masyarakat Jepang lebih suka bau ikan daripada mencium aroma bumbu. Bagi mereka, aroma ikan memiliki seni, bau aslinya masih terasa. Saat dimakan, olahan ikan bisa menyatu dengan alam, terlebih mereka sangat menghargai hasil alamnya. dan hampir semua makanan di Jepang benar-benar menjaga kualitas bahan aslinya termasuk sayuran," tutupnya. (ftr)