Sehat, Jenny Cortez Pilih Makanan Jepang & Korea

DEMI kesehatan, artis Jenny Cortez lebih mengonsumsi masakan Jepang dan Korea. Menurutnya, kuliner kedua negara menonjolkan sisi alami yang menyehatkan.

"Kalau makan, aku pasti cari makanan Jepang dan Korea karena rasa alami dan buat tubuh itu sangat bagus, apalagi makanan Korea lebih banyak pakai bahan herbal," kata Jenny Cortez, saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Jenny menambahkan, pilihan terhadap kedua kuliner bukan berarti dirinya tidak menyukai masakan Indonesia. Alasannya lebih karena kuliner Nusantara banyak didominasi santan.

"Makanan Indonesia itu aku hanya suka sate," tegasnya.

Diakuinya, bila menyantap makanan Jepang dan Korea, dia selalu memilih olahan mentah atau rebusan. Wanita berdarah Indramayu ini melihat kadar gizi yang bagus untuk tubuh.

"Semua orang tahu kalau olahan rebusan sangat bagus, kadar gizinya masih utuh, makanya aku kalau makan mencari sisi sehatnya," ujarnya.

Kesukaannya terhadap olahan rebus dan mentah telah ada sejak dia masih duduk di bangku SMP. Jenny terutama mulai mengonsumsinya ketika nongkrong bersama teman-temannya di daerah Senayan.

"Dulu, aku tidak begitu suka sama makanan serbarebus atau yang mentah, cuma begitu aku tahu manfaat gizi dan nutrisinya banyak, makanya aku jadi suka," tutupnya. (ftr)

Tiga Rasa Dominasi Makanan Jepang

detail berita
Ilustrasi. Foto: Okezone
KULINER Jepang terkenal dengan kelezatan cita rasa olahan bahan makanan mentah. Bila diperhatikan, kuliner Jepang sangat didominasi olahan apa adanya saja. Lalu, apa yang menjadikan kuliner Jepang bisa mendunia?

"Kalau Anda cari makanan Jepang, tidak ada yang memiliki unsur cabai, tetapi tiga rasa yang dominan, yaitu manis, asam, dan asin," kata Syamsul Bachri, Assistant Manager Miyama Japanese Restaurant, di Hotel Borobudur, Jakarta, baru-baru ini.

Syamsul mengutarakan secara detail soal kuliner Jepang yang didominasi tiga rasa. "Kenapa Jepang hanya menginginkan tiga rasa? Rasa manis menjadi permulaan rasa sebelum makan, rasa asin karena ada seafood, dengan pertimbangan bisa menahan daripada bertumbuhnya bakteri. Sementara, rasa asam adalah untuk kesehatan; mengurangi lemak dan kolesterol," tambahnya.

Dijelaskan Syamsul, Filosifi makanan Jepang terkait tiga rasa tersebut adalah "sa shi shu shei". Kata "sa" berasal dari kata "sato" yang artinya gula putih (merepresentasikan rasa manis), "shi" adalah shio (mewakilil rasa asin), "shu" dari kata shunomono yang artinya cuka (mewakili rasa asam), sedangkan "shei" berasal dari kata "sheiyu" yang artinya kecap asin.

Selain ketiga rasa yang mendominasi kuliner Jepang, diakuinya masyarakat Jepang lebih memilih rasa yang natural. "Orang Jepang suka aroma alami, misalnya Anda mengolah ikan, masyarakat Jepang lebih suka bau ikan daripada mencium aroma bumbu. Bagi mereka, aroma ikan memiliki seni, bau aslinya masih terasa. Saat dimakan, olahan ikan bisa menyatu dengan alam, terlebih mereka sangat menghargai hasil alamnya. dan hampir semua makanan di Jepang benar-benar menjaga kualitas bahan aslinya termasuk sayuran," tutupnya. (ftr)