Tips Hindari Makan Malam

Liputan6.com, New York: Cara termudah menjaga agar bentuk tubuh tetap ideal adalah dengan menghindari makan malam. Banyak ahli gizi mengatakan bahwa salah satu cara paling efektif untuk menurunkan berat badan tanpa mengorbankan kesehatan adalah berhenti makan setelah pukul 18.00 atau tidak makan malam sedikitnya tiga jam sebelum tidur.

Tetapi tidak mudah untuk menolak makan setelah hari yang sibuk, terutama jika lupa makan siang dan tidak sarapan. Tapi ada cara sederhana untuk mengelabui nafsu makan Anda.

1. Makan salad


2. Makan sup atau kaldu
Kuah kaldu dengan cepat mengisi perut dan mencegah makan berlebihan. Kaldu dalam sup menunda serangan kelaparan berikutnya untuk waktu yang lama. Tapi sup dan kaldu tidak boleh mengandung bumbu tajam, karena bisa merangsang nafsu makan.

3. Makan buah
Makan yoghurt atau apel. Ketika Anda makan apel karena mengandung tingkat harian yodium yang menghambat nafsu makan.

4. Perbanyak minum air putih
Segelas air mineral atau air panas direbus dengan sepotong lemon akan menghilangkan rasa lapar selama beberapa jam.

5. Konsumsi sup buah
Tuangkan tiga liter air ke dalam setengah kilo buah dan didihkan sampai air menguap menjadi 2,5 liter. Secangkir kolak sudah cukup untuk melupakan kelaparan selama setidaknya satu jam.

6. Makan susu bubuk
Satu sendok kecil susu kering tanpa lemak akan menyelamatkan mereka yang benar-benar sekarat karena kelaparan.

7. Mandi air panas
Mandi air panas membuat suasana hati menjadi rileks dan menekan nafsu makan. Hal ini belum lebih baik jika Anda menambahkan garam atau minyak esensial ke dalam bak mandi. Beberapa tetes jeruk, lemon, jeruk, atau minyak buah akan membantu untuk menipu perut lapar.

8. Konsumsi kacang dan kentang
Dua bahan makanan ini membuat perut terasa kenyang.

9. Latihan Menekan nafsu makan
Berjalan atau melakukan latihan sebelum tidur juga bagus untuk menghilangkan rasa lapar.

(Genius Beauty/ULF)

Stop Makan dengan Ucapkan "Saya Tidak"

Liputan6.com, New York: Untuk berhenti makan banyak, cobalah ucapkan "Saya Tidak". Efek dari ucapan dari dalam diri akan ditransfer melalui pikiran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, ucapan "saya tidak" ternyata sangat ampuh mengerem nafsu makan seseorang.

Penelitian itu dilakukan terhadap 30 wanita AS yang dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diberi makanan enak. Namun, mereka harus mengatakan "Saya Tidak". Sementara kelompok kedua diberi makanan serupa dan mengatakan "Saya Tidak Bisa". Selain itu, kelompok ketiga harus mengucap "Tidak".

Percobaan berlangsung selama 10 hari. Setelah periode itu sangat jelas bahwa wanita dari kelompok pertama lebih sering berhasil menahan godaan untuk makan berlebihan.

Peneliti menjelaskan bahwa strategi ucapkan "Saya tidak" memberi kontribusi pada pertumbuhan kesadaran diri dan pelaksanaan kontrol pada wanita. Akibatnya, ucapan itu menciptakan perubahan positif dalam perilaku jangka panjang di diri mereka.

Pada saat yang sama, strategi "Saya tidak bisa" mengisyaratkan kegagalan mencapai sesuatu yang sangat diinginkan. Ucapan "Saya Tidak Bisa" ternyata juga menyebabkan rasa tidak nyaman bagi Kaum Hawa. (Genius Beauty/MEL)

Mengurangi Makan dengan Rekayasa Aroma Makanan

TEMPO.CO, Jakarta - Gigitan besar membuat perut besar. Demikian diungkapkan para peneliti. Namun kini ilmuwan mempunyai solusinya: orang cenderung menggigit lebih sedikit makanan ketika makanan tersebut disertai aroma yang kuat. Jadi makanan yang beraroma kuat bisa membuat orang makan lebih sedikit.

Umumnya kita mengambil lebih banyak makanan yang kita kenal dan mengambil lebih sedikit makanan yang membutuhkan kunyahan lebih banyak. Menurut catatan peneliti, gigitan kecil lebih baik karena hal itu membuat perut Anda merasa kenyang lebih cepat serta menurunkan jumlah makanan dan kalori yang dikonsumsi.

Untuk melihat bagaimana bau makanan bisa mengubah ukuran gigitan, para peneliti mendesain makanan dengan cara yang aneh yang memisahkan bau dari faktor lain yang mempengaruhi besarnya gigitan. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Flavour edisi 21 Maret 2012.

Para partisipan diberi puding vanila dengan tabung, sementara bau puding vanila dikirimkan langsung ke bagian belakang hidung mereka. Mereka mengontrol jumlah puding yang masuk ke dalam mulut dengan menekan tombol untuk menghentikan. Para ilmuwan menimbang wadah puding sebelum dan sesudah "gigitan" untuk menghitung ukurannya. Rata-rata partisipan mengkonsumsi porsi normal makanan penutup.

Menurut Rene de Wijk, peneliti senior di Wageningen University dan Research Centre di Belanda, bagian belakang hidung meniru bau selama proses makan sesungguhnya. "Penampilan ini menyerupai situasi ketika makan normal di mana bau menjalar dari makanan ke mulut," kata dia seperti dikutip situs LiveScience edisi 21 Maret 2012. "Kami tidak bisa mengatakan apakah bau di dalam ruangan atau di piring mempunyai efek yang sama karena kami tidak mengujinya," ujar dia.

Para peneliti menemukan bahwa ketika makanan diasosiasikan dengan bau yang kuat, meski krim enak yang digunakan, orang cenderung menggigit lebih sedikit. "Aroma yang kami gunakan baunya adalah krim lezat dengan kadar rendah," ujar de Wijk. "Kami belum menguji bau aroma makanan lainnya, tapi kami yakin bahwa efeknya seperti yang diharapkan ketika aroma tersebut berkenaan dengan makanan."
LIVESCIENCE | ARBA'IYAH SATRIANI